Tere Liye: Cukup Kita Yang Tahu

Posted by

Digoreng

10-15 tahun lalu saya pernah membuat tulisan tentang: pembagian zakat yang menyuruh penerimanya antri. Kemudian rusuh. Sy ingat tulisan itu, bahwa: seharusnya yang ‘merangkak’ mengantarkan zakat itu adalah yang ngasih. Itu kewajiban, kenapa malah jadinya yang menerima harus berdesak2an, saling sikut, saling dorong. Apa sih poin-nya bikin acara pembagian zakat dengan ribuan orang antri? Mau menunjukkan apa? Sejak kapan bayar zakat jadi etalase pertunjukan?

5-6 tahun silam saya juga pernah menulis saat banjir Jakarta. Ada partai yang melakukan bakti sosial membantu korban banjir dengan memasang spanduk2 raksasa, kotak2 bertuliskan nama partai, nama caleg, dsbgnya. Saya tulis terang-benderang, betapa naifnya urusan ini, situ mau bantu atau situ ada kepentingan lain? Wuih, saya dibully sama kader partai ini. Habis2an dibully-nya. Dibilang: “Lantas lu tere liye sudah ngapain saja?” 

Tapi sorry dek, saya tidak akan berhenti menulis hal2 ini. Karena menurut prinsip yg saya pahami, di jaman serba pamer hari ini, di jaman medsos penuh topeng hari ini, bagi siapapun yang benar2 peduli, benar2 tulus, benar2 niat bantu, maka berhentilah saat membuat “kebaikan” kalian buat laksana pertunjukan konser. Kita ini memang dipenuhi kepalsuan, tapi mbok ya jangan lebay sekali kepalsuannya.

Dan lihat!! Hari2 ini kita diributkan oleh kejadian serupa. Pembagian sembako di Monas. Sampai tewas bocah usia belasan tahun gara2 terinjak2. Baik, investigasi masalah ini masih diurus polisi. Baik, polisi juga lagi galau, kemarin mereka bilang itu bocah tewas nggak ada hubungannya sama acara; hari ini mereka jadi ribet sendiri ternyata panjang kasusnya. TAPI inti dari masalah ini sama: ada orang melakukan “pertunjukan” saat bagi2 sesuatu.

Ayolah my man, situ mau bagi zakat, bagi sembako, bagi bantuan, bisa nggak sih dilakukan dalam senyap? Apa gunanya situ undang ribuang orang datang? Kan katanya ihklas? Tulus? Bukankah orang tua kita dulu sering ngasih nasihat: jika tangan kanan memberi, maka tangan kiri tidak perlu tahu. Sungguh itu wasiat yang sangat luhur. Bagikan harta kita kepada fakir miskin dengan senyap, bila perlu kita yang memikulnya, bawa itu karung sembako, ketuk pintu-pintu rumah mereka. Tidak perlu ada wartawan, tidak perlu simbol2, lambang2, logo2, apalagi selebaran, kepentingan, dsbgnya, dsbgnya. Iya kalau lancar2 saja, kita bisa bertepuk-tangan bangga, tapi kalau sampai ada yang meninggal? Duh, nyawa itu tak bisa ditukar beras segunung. Karena nyawa tak bisa dibeli. Padi bisa ditanam. Kalau sudah kadung begini, sudah kacau balau, maka kemana2 komentar orang. Salah si inilah, salah si itulah, bahkan salah si bocah ini, nape lu ikutan. Orang2 lupa inti permasalahannya adalah: “pertunjukan”.

Pak polisi, segera usut tuntas kasus ini. Harus ada yang bertanggung-jawab atas tewasnya bocah tersebut. Ini bukan masalah digoreng2, ampun dah, siapapun panitianya, apapun acaranya, jika sampai ada yang tewas, itu serius. Diusut yang betul; termasuk polisi yang kemarin cepat sekali bilang bocah itu meninggal bukan gara2 acara, dia harus menerima resiko atas pernyataannya. Buka semua fakta, bentangkan semua kesaksian, ini tidak rumit. Ini tidak “sesulit” seperti menemukan siapa yang menyiram penyidik KPK dengan air keras.

Terakhir, cukup sudah hal ini. Tidak perlu lagi ditambahi, sudah belasan tahun kok masih sama saja tabiat kita. Saya berdoa, semoga 2/3 anggota page saya ini yang rata2 masih remaja, tumbuh dengan pemahaman baru. Besok2, dek, sekaya apapun kalian, sehebat apapun kebaikan yang kalian miliki, jangan buat pertunjukan saat melakukannya. Lakukan dalam senyap!! Sungguh spesial sekali, saat seseorang telah melakukan sedekah segunung, kebaikan selautan, tapi bahkan semut pun tidak tahu. Kita tidak perlu bilang apa saja yang telah kita lakukan, bahkan saat orang menatap kita rendah dan bilang: “lantas apa yg elu sudah lakukan?” Cukup kita yang tahu.

*Tere Liye

loading...

FOLLOW and JOIN to Get Update!

Social Media Widget SM Widgets




Tips dan Cara Updated at: May 05, 2018

0 komentar:

Post a Comment

Powered by Blogger.